PELAJARAN DARI KISAH

Terdapat beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Adam as., yakni di antaranya :
~ Sombong dan takabbur adalah dosa besar yang telah menjatuhkan iblis ke jurang kehinaan, kecelakaan dan kesengsaraan selamanya.
Allah swt. menyatakan dalam hadits Qudsi :
” Kesombongan adalah selendangku-Ku, kebesaran adalah kain-Ku. Siapa yang merebut salah satunya dari keduanya, maka Aku lemparkan ia ke dalam neraka.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Daraquthni dan lainnya)
Betapapun tingginya kedudukan seorang hamba, ia tak pantas bersikap sombong. Betapapun kuatnya ibadah seorang hamba, dan betapapun banyaknya amal kebaikannya, tetap saja ia tak pantas bersikap sombong.
Iblis dulunya adalah mahkluk yang memiliki kedudukan yang tinggi dan bermartabat. Namun karena kesombongan dan kecongkakannya, akhirnya ia menjadi makhluk yang paling terhina dan terlaknat.
~ Sebagaimana kita ketahui , walaupun manusia telah dikurniai kecerdasan berpikir dan kekuatan fisikal serta mental, tetap saja ia mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya, seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal inilah yang telah terjadi pada diri Nabi Adam as., meskipun beliau adalah manusia yang sempurna dan dianugerahi kedudukan yang istimewa di surga. Beliau tetap tidak terhindar dari sifat sifat manusia yang lemah itu.
~ Allah mengampuni dan memafkan dosa/kesalahan yang dilakukan karena lupa atau bodoh.
” Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. ” ( QS, An-Nisa’ [4]: 17 )
Dalam agama, kejahoilan (kebodohan) dan kelupaan termasuk sesuatu yang dimaafkan. Contohnya, dalam hukum fiqih orang yang lupa makan saat berpuasa maka puasanya tetap sah. Orang yang lupa melakukan satu rukun dalam shalat, maka shalatnya tetap sah.
Orang yang melakukan shalat fardu di luar batas waktunya karena lupa dan tidak sengaja, ia tidak dikenai dosa. Orang yang tidak menjalankan puasa wajib karena lupa niat pada malam harinya, ia tidak berdosa karenanya. Begitulah, banyak sekali contoh-contoh dosa atau kesalahan yang termaafkan karena kelupaan pelakunya.
Dengan satu catatan, lupa di sini tidak dibuat dari kesengajaan. Orang yang sengaja mewujudkan suasana lupa atau darurat untuk menyalahi hukum, maka ia tidak bisa lepas dari beban dosa. Tentang hal ini hadits Nabi saw. menyebutkan :
” Sesungguhnya Allah memaafkan untukku dari umatku;
kesalahan (kekeliruan), kelalaian dan apa yang mereka terpaksa padanya. ” (HR. Ibnu Majah, Thabrani dan Al-Hakim yang mensahihkannya) al-Qur’an juga telah memfirmankan :
” Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja oleh hatimu. ”  (QS, al-Baqarah [2]: 225)
~ Tidak sepatutnya seorang hamba berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah, bila ia telah terlanjur melakukan maksiat atau berbuat dosa, sesungguhnya rahmat Allah dan ampunan-Nya mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya, asalkan diikuti dengan kesadaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.
Allah swt. telah menyatakan ;
” Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”  (QS. Az-Zumar [39]: 53)
” Maka barang siapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”  (QS. al-Maidah [5]: 39)

17 thoughts on “PELAJARAN DARI KISAH

  1. Lupa adalah sifat manusiawi yg sengaja Allah ciptakan dg berbagai hikmah didalamnya, bisa sebagai anugrah ( rukhsoh dalam ibadah tertentu ), bisa sebagai ujian atau jadi masalah kalau sampai keseringan lupa, …..lupa makan, lupa ada agenda penting atau janji dsb, iyakan ukhtiii….

  2. Sesungguhnya ALLOH MAHA PENGAMPUN atas Dosa2 Hambanya yg Bertobat & mensucikan Diri.. Tidak ada Kata Terlambat untuk Bertobat slama Hayat masih dikandung Badan… & segeralah Bertobat mumpung masih Sempat!!!
    ^_^

  3. Sesungguhnya ALLOH MAHA PENGAMPUN atas Dosa2 Hambanya yg Bertobat & Mensucikan Dirinya… Tidak ada Kata Terlambat untuk Bertobat selama Hayat Masih dikandung Badan… & Segeralah Bertobat mumpung masih Sempat!!!
    ^_^

  4. Pingback: Tingkat-Tingkat Kepribadian Manusia | nopha kartika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *