Pukulan Pertama

Anas ra. menuturkan, Nabi saw.pernah melewati seorang wanita yang menangis di sisi kuburan, maka beliau bersabda, ” Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah !”
Wanita itu menjawab, ” Menjauhlah dariku. Karena engkau tidak merasakan sendiri musibah yang menimpaku !”
Wanita itu tidak mengetahui siapa gerangan orang yang berbicara kepadanya. Lalu dikatakan kepadanya, ” Sesungguhnya orang yang berbicara itu adalah Nabi saw.”
Maka ia pun datang ke pintu Nabi dan tidak melihat penjaga di pintu tersebut seraya berkata, ” Aku tidak mengenalimu.”
Maka Nabi bersabda, ” Sabar itu hanyalah pada saat pukulan pertama.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Melalui hadits pendek ini Nabi saw, meletakkan sebuah landasan agung di antara landasan-landasan pendidikan yang sering dilupakan banyak orang, dan dalam waktu bersamaan beliau menyinggung masalah pendidikan yang sangat penting, yaitu diabaikannya akhlak mulia saat terjadi musibah. Banyak sekali orang yang mengetahui akhlak-akhlak luhur, dan sering membaca buku-buku yang berkenaan dengan hal itu, dan mengira dirinya telah berakhlak dengan akhlak-akhlak tersebut. Tetapi, kedok mereka terbuka saat musibah menimpanya. Melalui kata-kata pendek yang berasal dari murrabi ‘pendidik’ pertama, Rasulullah saw ini, beliau mencoba menanamkan landasan pendidikan tersebut kedalam jiwa wanita itu dan juga orang-orang sesudahnya, bahwa barang siapa menghiasi diri dengan suatu akhlak, maka janganlah ia menampakkan pada saat gembira saja. Sebab masa gembira tidak menampakkan hakikat akhlak yang kita aku, tetapi menampakkannya adalah saat musibah terjadi.
Yang disebut orang sabar adalah orang bersabar sejak awal musibah hingga selesai, dan bukan setelah orang lain mengingatkan dan memintanya bersabar. Demikian pula orang yang disebut penyantun, ia tetap santun terhadap orang yang berbuat ‘kurang ajar’ kepadanya atau melanggar hak-haknya. Ia tetap menampakkan kesantunan saat menghadapi sikap kurang ajar tersebut sejak awal sampai akhir, dan bukan setelah membalas orang tersebut dengan beberapa ucapan tidak baik atau pembelaan diri, kemudian berkata, ” Semoga Allah memaafkanmu.”

7 thoughts on “Pukulan Pertama

  1. Terkadang klo ada orang yang bilang… sabar, pengen rasanya kuat bisa sabar tapi namanya manusia meski kadang bilang sabar tapi hati mengeluh… yaaa itulah manusia :(

  2. Yang disebut orang sabar adalah orang bersabar sejak awal musibah hingga selesai, dan bukan setelah orang lain mengingatkan dan memintanya bersabar. Demikian pula orang yang disebut penyantun, ia tetap santun terhadap orang yang berbuat ‘kurang ajar’ kepadanya atau melanggar hak-haknya. Ia tetap menampakkan kesantunan saat menghadapi sikap kurang ajar tersebut sejak awal sampai akhir, dan bukan setelah membalas orang tersebut dengan beberapa ucapan tidak baik atau pembelaan diri, kemudian berkata, ” Semoga Allah memaafkanmu.
    _______________________________________________________________

    Ini akan saya bungkus dan bawa pulang

  3. betul kata mbak yunie..
    kadang bicara tak semudah mempraktekannya…
    kita hnya bisa berusaha dan tidak akan tau apa yg terjadi kedepannya

  4. ass
    benar orang yang benar2 sabar ,sejak awal musibah tawakal hingga akhir.
    semoga kita semua bisa belajar sabar.
    trims visitnya ke Yogyakarta
    salam kenal juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *